AirAsia Bantah Minta Bailout pada Pemerintah Malaysia

IVOOX.id – Co-founder AirAsia Tony Fernandes menegaskan tidak ada permintaan bailout dari AirAsia kepada pemerintah Malaysia di tengah sorotan terhadap kondisi keuangan maskapai berbiaya rendah tersebut.
Fernandes mengatakan AirAsia tidak membutuhkan bantuan penyelamatan atau bailout dari pemerintah untuk menjaga keberlanjutan bisnisnya. Ia juga menegaskan tidak ada pembicaraan dengan pemerintah Malaysia terkait bantuan tersebut.
Menurut dia, AirAsia memiliki likuiditas lebih dari 1 miliar ringgit atau sekitar Rp4,35 triliun sehingga perusahaan berada dalam posisi yang nyaman untuk memenuhi kebutuhan pendanaannya.
“Jadi kami baik-baik saja. Kami masih bisa bertahan dan semuanya baik-baik saja,” kata Fernandes dalam taklimat media daring yang diikuti di Jakarta, Jumat (18/9/2026), dikutip dari Antara.
Selain itu, AirAsia tengah mencari pembiayaan utang sekitar 1 miliar dolar AS serta menjajaki penambahan modal saham di Indonesia dan Filipina.
Fernandes mengatakan pembiayaan utang tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperoleh struktur pendanaan yang lebih baik, termasuk tingkat bunga dan persyaratan yang lebih menguntungkan, bukan untuk memperoleh modal baru.
Fernandes mengakui kenaikan biaya avtur mempengaruhi biaya operasional maskapai. Ia mengatakan kuartal II menjadi periode yang sulit karena harga rata-rata jet fuel mencapai 183 dolar AS per barel, atau meningkat 66 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Namun, menurut dia, kondisi tersebut diperkirakan membaik seiring dengan langkah AirAsia menyesuaikan tarif untuk mengantisipasi kenaikan biaya bahan bakar.
Di tengah tekanan biaya operasional tersebut, Fernandes mengatakan tidak ada pesawat AirAsia yang dihentikan operasinya (grounded) akibat gagal bayar.
Pernyataan itu disampaikan merespons laporan media mengenai langkah pemerintah Malaysia yang menghubungi Malaysia Airlines dan Batik Air untuk menyusun skenario antisipasi jika kondisi keuangan AirAsia memburuk, termasuk kemungkinan mengambil alih rute dan penumpang maskapai berbiaya rendah tersebut.
Fernandes membantah adanya pembicaraan dengan pemerintah Malaysia terkait bantuan penyelamatan atau bailout tersebut.
Saat ini, AirAsia memiliki sekitar 250 pesawat, dengan 10 pesawat lainnya diperkirakan siap beroperasi pada Oktober. Grup tersebut sebelumnya telah mengembalikan 25 pesawat yang lebih tua.
Berdasarkan data per 30 Juni 2026, liabilitas lancar AirAsia mencapai 18,4 miliar ringgit atau sekitar Rp80,2 triliun.


0 comments