AI Melulu | IVoox Indonesia

April 23, 2026

AI Melulu

230426-AI Melulu_AI
ILUSTRASI - Untuk saat ini, AI tidak memiliki emosi, pengalaman hidup, rasa takut, bosan dan hal lain yang membentuk bagaimana seorang manusia itu ada secara utuh. IVOOX.ID/AI

IVOOX.id - Bosan sekali rasanya ketika menemukan sebuah topik yang menarik di media sosial, lalu membacanya, berpikir sejenak, dan menyadarinya itu adalah tulisan karya AI, kecerdasan imitasi.

Hal semacam itu sering kali ditemukan dalam sebuah utas, video pendek vertikal, atau bahkan hanya sekadar takarir. Rasanya kosong. Tulisan robot sangat berbeda dengan tulisan manusia. Kecerdasan imitasi tak berjiwa, maka karya mereka tidak ada nyawanya.

Walau mungkin pesan yang disampaikan itu memang benar adanya, didukung oleh pengetahuan AI yang selalu diperbarui, atau bahkan dilapisi oleh data Google yang tak ada habisnya seperti Gemini. Tapi, pada noktah itu proses berpikir manusia berhenti.

AI secara kodrati adalah alat bantu manusia, bukan pengganti berpikir. Sam Altman, salah satu pendiri OpenAI, tidak meluncurkan Chat Generative Pre-trained Transformer hanya sekali, lalu membiarkan kecerdasan imitasi yang akrab di telinga sebagai GPT itu berkembang dan berevolusi dengan sendirinya. Altman dan timnya terus berpikir untuk mengembangkan versi terbaru Chat GPT.

Lalu, Elon Musk tidak membuat Grok untuk melanjutkan proyek Space X atau mengembangkan seri terbaru kendaraan Tesla. Justru, Musk dan timnya yang terus berpikir untuk mengembangkan Grok seperti apa, agar bisa disematkan dalam kepala Optimus, robot humanoid buatan Tesla.

Tapi sebaliknya, AI yang bersanding dengan kemalasan berpikir secara perlahan akan menumpulkan nalar yang menjadi ciri utama kecerdasan manusia. Dan hal itulah yang kini sering kali terlihat di jagat maya

Jawaban AI selalu berpola. Bagi yang terbiasa "ngobrol" dengan AI akan tahu mana manuskrip yang betul-betul hasil berpikir manusia, dan mana yang dengan terang ditulis oleh robot. Banyak-banyaklah "berteman" dengan berbagai macam AI, kelak akan tahu sendiri perbedaannya.

Lebih buruk lagi, fasilitas yang memanjakan dari AI ini tidak cukup sampai pada konten media sosial, tapi telah menjuntai ke institusi yang disebut Pilar Keempat Demokrasi: media massa.

Tidak salah. Sungguh sama sekali tidak salah. Menggunakan AI dalam sebuah pekerjaan, apapun itu, sama halnya seperti seorang insinyur teknik sipil menggunakan kalkulator dalam menghitung presisi bangunan. Juga seperti seorang fotografer menyerahkan pada mode "auto" kameranya untuk menyelaraskan fokus, aperture, iso, dan speed, sehingga ia bisa berkonsentrasi pada sudut pandang dan timing terbaik.

New York Times, salah satu media besar di Amerika Serikat, kini sudah membuat AI Agent. AI Agent adalah tingkatan lebih lanjut dari AI biasa, di mana mereka bisa berpikir dan bertindak secara mandiri tanpa perlu informasi atau perintah awal dari manusia.

Untuk New York Times, AI Agent di laman portal mereka berfungsi seperti mesin pencari Google, namun sumbernya adalah seluruh berita resmi yang sudah terverifikasi dan kredibel.

Dewan Pers juga tak ketinggalan dengan perkembangan zaman lewat aturan Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik. Artinya, kecerdasan imitasi sungguh tidak dilarang untuk digunakan. Penulis buku Disrupsi AI: Ketika Jurnalisme Dibajak Algoritma, Apni Jaya Putra, bahkan telah mendalami seluk beluk antara AI dan media massa dan mengimplementasikan AI dalam saluran medianya.

Etika

Hanya saja, ada aturan-aturan etika yang harus dijaga oleh pengguna AI, di samping yang paling penting adalah nilai-nilai jurnalistik yang harus berdiri pada fakta, verifikasi, justifikasi, dan "sambungannya" terhadap sumber.

Sekali lagi, tulisan AI memiliki pola bahasa yang mudah dikenali. Jika ada seseorang yang membuat konten di media sosial, atau bahkan menulis sebuah artikel atau opini di media massa, namun pola bahasa AI-nya sangat kental terasa, pembuat konten itu bukan menulis tapi hanya mendistribusikan informasi.

Ironisnya lagi, apabila karya AI yang diatasnamakan penulis manusia itu mendapat suatu penghargaan, atau ramai dibicarakan. Duh, apakah kita sedang memberikan penghargaan pada orang yang tepat?

AI tidak terlarang. Tapi bedakan AI sebagai alat bantu, dengan AI sebagai pengganti berpikir.

Contoh lain, dari kemalasan berpikir dalam penggunaan AI adalah ketika seseorang konten kreator, termasuk jurnalis, menyerahkan dan percaya sepenuhnya kepada AI yang gemar berhalusinasi bila tidak diberikan pelajaran yang tepat.

Misal, alat AI yang paling banyak digunakan oleh wartawan sekarang ini barangkali transkripsi otomatis dari sebuah rekaman narasumber. AI transkripsi bekerja dengan cara probabilitas. Ketika ada audio yang tidak jelas dari ucapan narasumber, AI tidak diam, tapi mengisi ketidakjelasan informasi itu dengan probablitas yang paling mungkin secara statistik.

Di beberapa AI transkripsi, ada yang menuliskan ketidakjelasan audio narasumber itu dengan kata "asmbdrdul", misalnya, dari kata asli "amburadul". Tapi ada AI lain yang bekerja dengan cara berpikir sendiri dan berinisiatif menuliskan kata lain, yang berasal dari karangannya sendiri. Ketika semua informasi dari AI ini ditelan tanpa dikuliti oleh wartawan, di situlah rantai verifikasi yang menjadi senjata jurnalis terputus.

Hasilnya bisa fatal. Yaitu halusinasi AI masuk ke naskah berita, dipublikasi, dan jadi krisis institusional.

Oleh karena itu, mengapa Apni Jaya menilai penting bahwa sebuah media massa harus memiliki aturan masing-masing terhadap penggunaan AI di internal lembaga jurnalistiknya. Selain itu, publikasi bahwa sebuah media massa mengolah informasi dengan menggunakan AI juga menjadi transparansi untuk meningkatkan kepercayaan publik.

Memang, AI bisa meniru sebuah karya. Sebagaimana di awal tren AI yang bisa mengubah foto keluarga menjadi bergaya animasi Studio Ghibli yang menenangkan. Ya, Studio Ghibli yang banyak film animasinya meraih penghargaan Oscar. Yang Spirited Away-nya adalah sebuah puisi bergambar.

Seperti AI bisa meniru sebuah gambar, AI juga bisa meniru gaya penulisan tertentu. Tapi, setidaknya untuk saat ini, AI tidak memiliki emosi, pengalaman hidup, rasa takut, bosan dan hal lain yang membentuk bagaimana seorang manusia itu ada secara utuh.

Hayao Miyazaki, sang maestro dari karya-karya film Studio Ghibli, mengkritik keras penggunaan AI dalam sebuah karya seni. Bukan hanya karena jutaan orang ramai-ramai menjiplak gaya animasi Studio Ghibli, lebih dari itu, Miyazaki menyebutnya sebagai penghinaan terhadap kehidupan.

Menurut dia, AI menghilangkan esensi ketidaksempurnaan dan kelemahan manusia. Tidak jarang, sebuah adikarya justru terlahir dari titik terendah ketidakmampuan seseorang, kekosongan mengharap sesuatu, dan murni dari tumpahan bagian paling dalam hati yang meluap. Ketika sebuah karya bercampur rasa, di situlah "dia" memiliki nyawa.


Penulis: Aditya Ramadhan

Sumber: Antara

0 comments

    Leave a Reply