Aftech dan Perbanas Dorong Sinergi Bank dan Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional | IVoox Indonesia

5 Maret 2026

Aftech dan Perbanas Dorong Sinergi Bank dan Fintech untuk Perluas Akses Kredit Nasional

Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025
Ketua Umum Aftech Pandu Sjahrir (keenam dari kiri) bersama Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta (ketujuh dari kiri); Deputi Komisioner Hubungan Internasional, APU-PPT, dan Daerah OJK Bambang Mukti Riyadi (kelima dari kiri), dan jajaran lain dalam pembukaan Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025 di Wisma Danantara, Selasa (11/11/2025). (ANTARA/Rizka Khaerunnisa)

IVOOX.id – Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) bersama Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menegaskan komitmen memperkuat kolaborasi antara sektor perbankan dan teknologi finansial (fintech) untuk memperluas akses kredit nasional. Kedua asosiasi menilai kerja sama yang lebih terarah diperlukan mengingat rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih stagnan di angka 30 persen selama satu dekade terakhir, sementara kebutuhan pembiayaan, terutama bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), masih menyisakan kesenjangan sekitar 234 miliar dolar AS.

Sekretaris Jenderal Perbanas sekaligus Komisaris Bank Jago, Anika Faisal, menekankan bahwa peningkatan rasio kredit nasional hanya dapat dicapai melalui penguatan intermediasi dan kolaborasi antar pelaku jasa keuangan. “Adanya simbiosis antara kedua sektor ini mampu meningkatkan jangkauan pelayanan sekaligus memperluas pilihan produk kredit bagi berbagai segmen masyarakat. Namun, kolaborasi ini harus diimbangi dengan regulasi perlindungan konsumen yang kuat serta penegakan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan inovasi yang bertanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima ivoox.id Kamis (13/11/2025).

Menurut Anika, kombinasi antara jaringan luas serta kemampuan manajemen risiko perbankan dengan inovasi teknologi dari fintech akan mempercepat perluasan akses kredit, terutama ke wilayah di luar Jawa dan sektor-sektor yang belum sepenuhnya terlayani.

Ketua Departemen Perbankan Aftech sekaligus EVP Head of Digital Economy CIMB Niaga, Dedy Sahat, mengatakan ruang untuk memperluas akses kredit di Indonesia masih sangat besar. Berdasarkan survei Aftech bersama Mandala Consulting, terdapat 4,5 persen populasi yang masih unbanked atau belum memiliki akun bank, serta 36 persen yang underbanked atau belum memiliki akses kredit memadai. 

“Tentunya ini adalah tantangan yang tidak bisa langsung dijawab dengan satu solusi saja. Bank tetap memegang peran penting, namun sektor digital juga muncul sebagai solusi dengan pertumbuhan tercepat saat ini, seperti pemberian akses kredit melalui perusahaan fintech,” ujar Dedy.

Ia menambahkan bahwa forum diskusi Aftech dan Perbanas yang digelar dalam rangka Bulan Fintech Nasional (BFN) menjadi wadah penting untuk memperkuat kepercayaan dan menyelaraskan strategi antara sektor perbankan dan fintech. “Kami berharap kegiatan ini dapat melahirkan lebih banyak inovasi dalam inklusi keuangan di masa depan,” katanya.

Dukungan juga datang dari Deputi Komisioner Pengawas Bank Swasta OJK, Indarto Budiwitono, yang hadir dalam forum tersebut. “OJK mendukung penuh kegiatan hari ini dan berharap kegiatan ini dapat memberikan masukan yang konstruktif bagi perkembangan industri fintech ke depannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Departemen P2P Lending Aftech sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menilai bahwa kemitraan antara bank dan platform pinjaman daring (pindar) terus menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data OJK per Juli 2025, outstanding pendanaan dari lender perbankan meningkat 40,09 persen secara tahunan, mencapai Rp54,10 triliun atau sekitar 63,9 persen dari total pendanaan industri. “Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan bank terhadap pindar terus meningkat, terutama terhadap platform dengan tata kelola dan riwayat kepatuhan yang baik,” ujar Nucky.

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan kolaborasi antara bank dan pindar membutuhkan keselarasan kebutuhan dan ekspektasi kedua pihak. Tantangan ke depan tidak hanya pada perluasan pendanaan, tetapi juga dalam membangun kemitraan jangka panjang berbasis tata kelola yang baik. 

0 comments

    Leave a Reply