AFTECH: 73 Persen Pengguna Fintech Masih Terkonsentrasi di Jabodetabek

IVOOX.id – Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) merilis Annual Members Survey (AMS) AFTECH 2024–2025 bertepatan dengan momentum 10 tahun kiprah asosiasi di industri fintech. Survei menunjukkan 73,77 persen pengguna fintech masih terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek. Kelompok masyarakat berpenghasilan Rp0–5 juta pun masih menghadapi hambatan akses terhadap layanan keuangan digital.
Dari sisi keamanan, 27,12 persen perusahaan fintech melaporkan mengalami serangan phishing pada 2025, sementara 82,98 persen menyebut fraud eksternal sebagai risiko utama. Meski 43,44 persen perusahaan telah aktif menjalankan program literasi, sebanyak 59,02 persen pelaku industri menilai rendahnya literasi keuangan sebagai tantangan terbesar dalam mendorong inklusi.
AFTECH sebagai asosiasi resmi penyelenggara Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK) yang berdiri satu dekade lalu, diproyeksikan menjadi titik temu antara pelaku industri, regulator, dan masyarakat dalam mendorong inovasi sekaligus menjaga tata kelola dan perlindungan konsumen. Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir mengatakan, momentum 10 tahun ini menjadi fase refleksi sekaligus konsolidasi industri.
“Fintech harus dimanfaatkan secara benar, aman, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM, petani, nelayan, dan pekerja sektor riil. Jika kita ingin berkontribusi pada target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen, maka inovasi keuangan digital 1 (satu) dekade kedepan harus hadir sebagai enabler yang efisien dan efektif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dan membawa solusi, bukan menjadi sumber masalah,” ujar Pandu dala keterangan resmi yang diterima Ivoox.id Rabu (11/2/2026).
Pada momen yang sama, AFTECH bersama Easycash meluncurkan Chatpindar.com, platform literasi keuangan digital berbasis web dengan teknologi AI large language model dalam format percakapan. Inisiatif ini dirancang sebagai sarana edukasi yang dapat diakses kapan saja oleh masyarakat untuk memahami industri pinjaman daring.
“Chatpindar.com lahir dari kesadaran bahwa literasi keuangan tidak bisa hanya disampaikan lewat seminar online, offline atau konten edukasi. Melalui kanal ini, masyarakat bisa terus mencari jawaban yang kredibel dari pertanyaan yang timbul di luar sesi literasi keuangan. Chatpindar adalah bukti bahwa HUT ke-10 AFTECH bukan seremoni, tetapi langkah nyata untuk menjembatani kesenjangan literasi,” kata Pandu.
Melalui Chatpindar, masyarakat dapat bertanya seputar perbedaan platform pindar berizin dan pinjol ilegal, konsekuensi gagal bayar, hingga detail biaya dan keamanan data pribadi. Platform ini ditegaskan sebagai fasilitas edukasi, bukan layanan pelanggan maupun rujukan hukum.
Pandu menyebut satu dekade AFTECH sebagai awal babak baru industri fintech. “Ke depan, AFTECH akan terus menjadi penghubung antara inovasi dan kepercayaan. Dengan literasi yang kuat, keamanan yang terjaga, dan kolaborasi lintas sektor, fintech Indonesia bisa tumbuh sehat dan memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi bangsa,” katanya.


0 comments