Trump Kemungkinan Bakal Kembali Temui Kim Jong-un

IVOOX.id, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku kemungkinan besar bakal kembali bertemu dengan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un. Ia ingin meyakinkan Pyongyang agar melepaskan senjata nuklirnya.

Dalam wawancara dengan Reuters, Trump, yang mengadakan pertemuan puncak dengan Kim Jong-un pada 12 Juni, mengatakan dia yakin Korut telah mengambil langkah spesifik menuju denuklirisasi, meskipun ada keraguan yang meluas tentang kesediaan Kim Jong-un untuk meninggalkan persenjataannya.

Sementara bersikeras bahwa banyak hal baik sedang terjadi dengan Korut, Trump mengeluhkan sikap China yang tidak banyak membantu seperti di masal lalu karena perselisihan perdagangannya dengan AS.

Trump, yang menghadapi tantangan Korut segera setelah ia menjabat pada Januari 2017, mengatakan ia mengerjakan masalah Korut hanya tiga bulan. Sementara pendahulunya telah bekerja selama 30 tahun.

“Saya menghentikan uji coba nuklir (Korea Utara). Saya menghentikan uji coba rudal (Korea Utara). Jepang senang. Apa yang akan terjadi? Siapa yang tahu? Kita akan melihat,” katanya seperti dikutip dari Reuters, Selasa (21/8/2018).

Pada pertemuan puncak mereka di Singapura, Kim Jong-un setuju secara luas untuk bekerja menuju denuklirisasi Semenanjung Korea. Namun Korut tidak memberikan indikasi bahwa mereka bersedia menyerahkan senjata secara sepihak seperti yang diminta oleh pemerintahan Trump.

Trump telah memuji pertemuan di Singapura sebagai keberhasilan dan lebih jauh mengatakan Korut tidak lagi menimbulkan ancaman nuklir.

Dalam wawancara, Trump memuji chemistry besarnya dengan Kim Jong-un untuk mengurangi kebuntuan nuklir yang tahun lalu menimbulkan kekhawatiran akan pecahnya Perang Korea baru.

“Aku suka dia. Dia suka padaku,” katanya.

“Tidak ada rudal balistik yang naik, ada banyak kesunyian … aku memiliki hubungan pribadi yang sangat baik dengan Ketua Kim, dan kurasa itulah yang menyatukannya,” imbuhnya.

Ditanya apakah pertemuan kembali dengan Kim Jong-un berada dalam perencanaan, Trump mengatakan: “Kemungkinan besar kita akan melakukannya, tetapi saya hanya tidak ingin berkomentar.”

Meski begitu, Trump tidak memberikan rincian tentang waktu atau tempat pertemuan tersebut.

Ditanya apakah Korut telah mengambil langkah khusus untuk denuklirisasi selain meledakkan situs uji coba bom nuklir utamanya menjelang pertemuan, Trump: “Saya yakin mereka punya.” Namun dia tidak merinci.

Dia juga menunjuk serah terima tiga tahanan Amerika oleh Korut jelang pertemuannya dengan Kim Jong-un.

Kritik menyebut Trump telah membuat terlalu banyak konsesi kepada Kim Jong-un dengan menyetujui untuk mengadakan pertemuan di tempat lain. Trump kemudian juga menangguhkan latihan militer bersama AS-Korea Selatan (Korsel). Sementara AS hanya mendapatkan sedikit imbalan dari kebijakan itu.

Lembaga think thank North38 yang berbasis di Washington bulan lalu melaporkan bahwa citra satelit menunjukkan Korut telah mulai membongkar fasilitas utama di sebuah situs yang digunakan untuk mengembangkan mesin untuk rudal balistik. Para pejabat AS mengatakan ini adalah langkah pertama untuk memenuhi janji kepada Trump pada pertemuan di Singapura.

Namun, beberapa anggota tim negosiasi AS, yang berbicara tentang kondisi anonimitas, mengatakan mereka tidak melihat kemajuan menuju denuklirisasi dan tidak ada tanda bahwa Korut siap untuk bernegosiasi dengan serius sampai AS menjanjikan bantuan dari sanksi sebagai imbalannya.

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan pada sidang komite Senat bahwa Korut terus memproduksi bahan bakar untuk bom nuklir, dan seorang pejabat AS mengatakan satelit mata-mata AS mendeteksi aktivitas baru di pabrik yang menghasilkan rudal Korut yang mampu mencapai AS.