Sentil Guru, Sri Mulyani : Tunjangan Besar, Tidak Berkualitas

IVOOX.ID, Jakarta – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengingatkan akan besarnya tunjangan untuk guru yang tidak diiringi dengan peningkatan kualitas guru. Sentilan ini diungkapkan dalam pidatonya di depan PGRI.

Sri Mulyani Indrawati mengatakan besarnya tunjangan guru dalam bentuk sertifikasi tidak mencerminkan kualitas pendidik.

“Saya dulu memulai bahwa guru harus disertifikasi, saya senang, tapi sekarang sering sertifikasi itu tidak mencerminkan apa-apa, dia mungkin hanya prosedural saja untuk bisa mendapat tunjangan,” kata Sri Mulyani di Aula Gedung Guru Indonesia, Jakarta (10/7).

Sertifikasi guru saat ini dapat dilihat hanya sebagai gambaran guru yang betul-betul profesional dan bukan menggambarkan guru yang bertanggung jawab terhadap kualitas mengajar.

Mantan direktur Bank Dunia tersebut mengajak agar guru berpikir keras bersama pemerintah mengenai kesejahteraan dan kualitas guru. Sri menjelaskan  20 persen atau Rp 444 triliun alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 digunakan untuk sektor pendidikan.

Menurut Sri, politik anggaran terus mendukung untuk naiknya anggaran pendidikan. Menurut Pada 2009 anggaran pendidikan sekitar Rp 160 trilun, pada 2013 naik menjadi Rp 332, dan pada 2017 juga naik menjadi Rp 419,8 triliun.

Menurut dia, anggaran sebesar 20 persen itu tidak hanya selalu bisa dijadikan acuan untuk terus meningkatkan gaji guru. Namun, juga harus dilihat secara keseluruhan bagaimana para guru berkomitmen untuk meningkatkan kualitas didiknya, baik dari sisi moralnya maupun keilmuannya.

“Jadi kalau 20 persen anggaran pendidikan, maka kita akan lihat pasti tiap tahun otomatis naik, padahal anggaran lain tergantung kebutuhan. Tapi saya dapat 20 persennya enggak pernah dipikirkan dari situ apa yang kami capai. Sehingga, kami khawatir tidak berfikir memgenai kualitas,” tegas Sri.

Menantang  agar guru perlu memikirkan lebih keras soal desain pendidikan Indonesia.

“Karena kalau semua orang pelaku pendidikan sibuk ingin gaji dan tidak memikirikan pendidikannya, jadi siapa yang memikirkan? Desainnya mau gimana? Kalau misal dapat 20 persen ini dipakai strateginya gimana? Apakah gaji, perbaikan kualitas guru, sekolah, atau teknologi?,” tegas Sri Mulyani.

Sri meminta PGRI sebagai pilar untuk peningkatan kualitas dan penegakan integritas sebagai pilar utama.

“Integritas pendidik adalah nilai yang tidak bisa diperjualbelikan,” ujar Sri Mulyani.

LEAVE A REPLY