Sebanyak 12 Remaja Putri Akan Ambil Alih Sehari Jabatan Strategis Pemerintahan, Termasuk Jabatan Luhut Panjaitan

IVOOX.id, Jakarta – Sebanyak 12 remaja perempuan Indonesia yang berusia 15 sampai degnan 17 tahun berkesempatan mengambil alih sementara sejumlah posisi strategis di berbagai institusi pemerintahan dan lembaga internasional dalam kegiatan Sehari Jadi Pemimpin.

“Kami menyeleksi 12 dari 392 aplikasi yang dikirimkan ke Plan International Indonesia,” kata Direktur Program Yayasan Plan International Indonesia Dwi Yuliawati dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (13/10).

Untuk menyeleksi 12 peserta itu, pihaknya membuat kompetisi melalui video blog. Mereka juga diminta untuk mengisi formulir tertentu.

“Apa yang direkomendasikan itu sesuai dengan tema dan mampu membuat pernyataan-pernyataan yang sesuai dengan visi dan misi Plan International Indonesia,” ujarnya, dikutip Antara.

Acara itu diselenggarakan oleh Yayasan Plan International Indonesia sejak 10 Oktober dalam rangka perayaan Hari Anak Perempuan Internasional 2018.

Kedua belas anak perempuan yang telah mengikuti kegiatan Sehari Jadi Pemimpin tersebut terpilih setelah diseleksi melalui kompetisi video blog dengan tema Ciptakan Kota Aman untuk Anak Perempuan.

Berbagai peran pemimpin yang diambil alih antara lain adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Komisaris PT Kereta Api Indonesia, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika, Direktur Tindak Pidana Siber, sejumlah posisi di Kepolisian Resor Jakarta Pusat, dan peran di lembaga kemanusiaan nasional dan internasional, yakni sebagai Deputy Country Representative dan Program Analyst For Youth Development and ASRH United Nation Population Fund (UNFPA), serta Direktur Eksekutif dan Direktur Program Yayasan Plan International Indonesia (YPII).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Farida Dwi Cahyarini mengapresiasi program dan para peserta yang mengikuti kegiatan Sehari Jadi Pemimpin.

Posisi Farida diambil alih sementara oleh Zeno dari Nagakeo, Flores, Nusa Tenggara Timur.

“Harapan kami para remaja perempuan di Indonesia itu pasti bisa meraih pendidikan yang sangat tinggi karena saya melihat kecerdasannya itu bisa mengambil alih posisi kepemimpinan strategis,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Zeno belajar berbagai hal termasuk jalannya roda pemerintahan, membalas surat duta besar Laos dan Myanmar, membuat soal tentang digital leadership, revolusi industri 4.0 dan ikut rapat dengan kepala biro.

Berdasarkan hasil riset, dia mengatakan kebutuhan anak-anak perempuan di wilayah publik kurang diperhatikan.

Kegiatan yang sudah dilakukan untuk ketiga kalinya di Indonesia itu serentak dilakukan di 70 negara dalam rangka peringatan Hari Anak Perempuan Internasional yang jatuh pada 11 Oktober.

Pada perayaan Hari Anak Perempuan Internasional 2018 yang mengangkat tema Kota Aman untuk Anak Perempuan, Dini menyoroti bahwa ruang publik dan fasilitas umum masih belum sepenuhnya memenuhi hak anak, terutama anak perempuan. Hal ini sejalan dengan hasil polling Yayasan Plan International Indonesia bekerja sama dengan U Report yang baru-baru ini dirilis dengan hasil temuan bahwa transportasi dinilai sebagai fasilitas publik yang paling tidak aman.

Rangkaian kegiatan perayaan Hari Anak Perempuan Internasional meliputi konferensi pers, musik, talkshow dan pameran mural. Sejumlah pemusik yang ikut mendukung kegiatan itu antara lain Shanna Shannon, Bangkutaman, The Dying Sirens, Yacko dan Lana Nitibaskara.

Kegiatan-kegiatan itu bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat umum untuk bersama-sama menciptakan kota aman bagi anak perempuan serta mendorong partisipasi masyarakat untuk kesetaraan anak perempuan.

Selain di Jakarta, perayaan Hari Anak Perempuan Internasional 2018 juga dilakukan di wilayah area kerja Yayasan Plan International Indonesia di kota-kota Nagekeo, Lembata dan Soe pada 12 sampai dengan 13 Oktober 2018.

Yayasan Plan International Indonesia juga meluncurkan kampanye terbarunya, Girls Get Equal yang bertujuan untuk mendorong kesetaraan anak perempuan untuk terlibat di berbagai sektor.

Komisaris PT Kereta Api Indonesia Suhono Harso Supangkat mengatakan menjamin rasa nyaman dan aman merupakan prioritas dan tekad institusi ini dalam memberikan pelayanan publik terkhusus memfasilitasi kebutuhan anak perempuan dan perempuan.

“Di manapun kita harus menciptakan sesuatu aman, nyaman, bahagia dan yang berkelanjutan,” tuturnya.

Kepala Bidang Tata Kelola Transportasi Terpadu Kedeputian Koordinasi Bidang Infrastruktur Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Hendra Syahputra mengatakan para peserta perempuan tentunya mendapatkan suatu pengalaman pribadi yang positif dan belum tentu bisa didapat oleh remaja perempuan lain.

Posisi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan diambil alih sementara oleh Osin dari Lembata, Nusa Tenggara Timur. Dia melakukan kegiatan seharian seperti layaknya menteri.

“(Osin) Dia mendapatkan kesempatan untuk belajar dan ini salah satu bentuk partisipasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman. Untuk memberikan pembelajaran dan informasi bersifat informal bagi anak ini untuk mereka mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan,” ujarnya.

Berikut nama kedua belas anak yang ikut dalam kegiatan Sehari Jadi Pemimpin: Eiffelyne dari Kediri mengambil alih posisi Executive Director Yayasan Plan International Indonesia; Ainun dari Kepulauan Selayar sebagai Program Director Yayasan Plan International Indonesia; Tiara dari Bogor sebagai Komisaris PT KAI; Freety dari Bengkulu sebagai Program Analyst for Youth Development and ASRH Program UNFPA.

Kemudian, Jeivi dari Halmahera Utara sebagai Kepala Satuan (Kasat) Pembinaan Masyarakat Polres Jakarta Pusat; Shania dari Pasuruan sebagai Wakil Kepala Polres Jakarta Pusat; Lala dari Bone sebagai Direktur Tindak Pidana Siber; Yola dari Batam sebagai Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat.

Selanjutnya, Ayes dari Lembata sebagai Deputy Country Representative UNFPA; Osin dari Lembata sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman; Zeno dari Nagekeo sebagai Sekjen Kemkominfo; serta Elfi dari Lembata sebagai Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Jakarta Pusat.