Puncak DBD Seirama Musim Hujan

IVOOX.id, Jakarta — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mengingatkan pemerintah ­daerah harus ‘aktif’ menahan laju penyebaran  demam berdarah dengue (DBD). Namun, penyakit yang ­disebabkan nyamuk aedes aegypti itu masih merebak di sejumlah daerah.

Di Kota Depok, misalnya, sepanjang Januari 2019 sudah terjadi 149 kasus DBD. Kepala Dinas Kesehatan Kota ­Depok, Novarita, mengatakan pihaknya sudah mencegah penyebaran wabah DBD yang meluas di  63 kelurahan dan 11 kecamatan di Kota Depok.

“Salah satunya dengan fogging serta pemberantasan sarang nyamuk. Meski sudah ada 149 kasus DBD, belum bisa disebut sebagai kejadian luar biasa (KLB),” ujarnya.

Di Kabupaten Badung, Bali, DBD juga  mulai merebak dengan 46 kasus. Direktur Utama RSUD Mangusada, Nyoman Gunarta, mengatakan, meskipun jumlah pasien di Januari ini cukup banyak, dibanding periode yang sama pada tahun lalu, kondisinya masih mirip, belum ada lonjakan.

Dinas kesehatan setempat secara rutin mengirim petugas mendatangi rumah penduduk. Kepala ­Lingkungan Banjar Campuhan Asri Kangin, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, ­Kabupaten Badung, Agung Swastika, mewanti-wanti warganya agar jangan sampai menolak petugas ­jumantik yang mengecek kondisi rumah, ­terutama bak mandi ke  rumah-rumah warga untuk memastikan tidak ada jentik nyamuk.

Sejak DBD ditetapkan sebagai KLB di Kota Kupang, NTT, korban DBD (NTT) terus berjatuhan. Kabid Penanggulangan dan Pengamatan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kupang Sri Wahyuningsih mengatakan hingga berita ini diturunkan, sudah mencapai 157 kasus yang  tersebar di 40 dari 51 kelurahan.

Seluruh pegawai Kantor Gubernur NTT, jelas Sri, melakukan pembersihan sampah di ruas jalan utama yang  dipim­pin Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Wakil Gubernur Josef Nae Soi.

Puncak DBD Febuari-Maret
Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan ancaman DBD harus disadari sejak awal ­karena hanya menyerang saat musim ­penghujan tidak seutuhnya benar. Penyakit yang bersifat mengurangi cairan dalam pembuluh darah itu juga dapat terjadi pada musim kemarau.

“Nyamuk yang ada di Indonesia ­kebanyakan aedes aegypti. Sebenarnya DBD bisa menyerang saat kemarau, tapi jentik nyamuk tidak bisa hidup karena tidak ada air, jadi mengering.­ Nyamuk hanya butuh sedikit air untuk bisa menetaskan telurnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan puncak DBD terjadi seiring dengan puncak hujan pada awal tahun. Namun, ancaman ini dapat dicegah dengan perilaku sadar DBD.

“Biasanya pada Februari hingga Maret. Kami lebih menangani kasus akan banyak di awal saja karena kita sudah bisa mengatasi,” ucapnya.

Upaya yang dilakukan pemerintah, lanjut Siti, dengan memutus siklus nyamuk merupakan target bebas ­jentik yang baru mencapai 60% dari 95% target yang harus dicapai.

Di sisi lain, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sudah membuat surat edaran  agar di setiap keluarga ada jumantik.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencengahan dan Pengen­dalian Penyakit Menular (P2PM) Kabupaten Tasikmalaya, Atang Sumardi, mengatakan, hampir seluruh wilayah berada di Kabupaten Tasikmalaya masuk ­endemi DBD.

Namun, kesadaran masyarakat sekitar untuk mencegah DBD masih rendah.(Adhi teguh)