Alfred Nainggolan, analis Koneksi Kapital

Pasar Menanti Dana Repatriasi Masuk ke Properti

iVooxid, Jakarta — Amnesti pajak merupakan masalah kepercayaan bagi pelaku pasar saham. Oleh karena itu, mereka menanti dana repatriasi dari program tersebut benar-benar masuk ke sektor riil di properti.

“Amnesti pajak adalah masalah trust. Saya melihat capital inflow dari amnesti pajak, paling cepat terealisasi sinyalnya berasal dari pasar keuangan terlebih dahulu. Jadi, setelah masuk ke financial asset, baru nanti masuk ke real asset seperti properti,” kata Alfred Nainggolan, analis Koneksi Kapital kepada Jawarul Kunnas dari iVooxid di Jakarta, Rabu (7/9/2016).

Oleh karena itu, lanjut Alfred, jika di pasar finansial belum terlihat dana masuk secara signifikan, real asset termasuk properti juga belum akan menggeliat. Investor pun kemungkinan masih akan wait and see. “Investor akan melihat apakah benar-benar repatriasi dari amnesti pajak sudah konkret masuk di properti atau belum,” tandas dia. Berikut ini wawancara lengkapnya:

Seiring penantian pasar atas realisasi amnesti pajak, bagaimana Anda melihat pengaruh repatriasi tersebut terhadap prospek emiten-emiten di sektor properti?

Saya melihat banyak katalis positif untuk emiten-emiten di sektor properti, mulai dari relaksasi Loan to Value (LtV), terus tahun ini masuk pada tren penurunan suku bunga, kepemlikan KPR oleh asing hingga masalah amnesti pajak. Oleh karena itu, secara keseluruhan, sentimen untuk saham-saham properti sangat positif.

Akan tetapi, semua itu lebih merupakan prospek. Artinya, katalis tersebut tidak bisa dirasakan pengaruhnya secara langsung kepada emiten-emiten properti saat ini yang terefleksi dalam laporan keuangannya. Yang jelas, dengan katalis-katalis itu, ada outlook yang semakin bagus untuk emiten-emiten properti ke depan.

Jadi, secara spesifik pengaruh repatriasi terhadap emten-emten properti seperti apa?

Terkait dengan kebijakan amnesti pajak dan kaitannya terhadap emiten-emiten properti, pemerintah membuka peluang adanya produk properti menjadi salah satu instrumen untuk menampung dana repatriasi yang masuk ke dalam negeri. Jadi, selain produk-produk di pasar keuangan, properti juga bisa menjadi wadah repatriasi di pasar riil.

Menurut perkiraan Anda, kapan aliran dana repatriasi bakal masuk deras ke sektor properti?

Amnesti pajak adalah masalah trust. Saya melihat capital inflow dari amnesti pajak, paling cepat terealisasi sinyalnya berasal dari pasar keuangan terlebih dahulu. Jadi, setelah masuk ke financial asset, baru nanti masuk ke real asset seperti properti.

Oleh karena itu, jika di pasar finansial belum terlihat dana masuk secara signifikan, real asset termasuk properti juga belum akan menggeliat. Investor pun kemungkinan masih wait and see. Investor akan melihat apakah benar-benar repatriasi dari amnesti pajak sudah konkret masuk di properti atau belum.

Berarti, amnesti pajak belum berpengaruh positif pada pergerakan harga saham-saham di sektor properti?

Harga saham-saham properti sekarang baru memfaktorkan (price in) kebijakan-kebijakan seperti Loan to Value (LtV), penurunan suku bunga, dan belum mendiskon kebijakan amnesti pajak. Saat ini, pasar melihat di berbagai gate way amnesti pajak, belum ada realisasi yang cukup baik. Intinya, kebijakan amnesti pajak belum price in di saham-saham properti.

Anda sendiri optimistis dengan repatriasi dari dana amnesti pajak?

Sejauh ini, data potensi repatriasi dari amnesti pajak masih samar-samar, Rp1.000-2.000 triliun. Akan tetapi, jika melihat realisasinya target hingga Maret 2017 pun saya masih pesimistis, bisa menambah pendapatan pajak hingga Rp160 triliun.

Realisasi puncak amnesti pajak, akan terlihat di akhir 2016, Desember 2016 dan Januari 2017. Hanya saja, untuk besaran angkanya kita belum punya proyeksinya. Sebab, ukuran Rp1.000-2.000 yang dilemparkan ke publik baik oleh Dirjen Pajak maupun pemerintah kita belum yakin. Itu pun, dana masuk baru ke sektor finansial terlebih dahulu.

Bagaimana dengan investasi di sektor properti yang berasal dari amnesti pajak?

Saat ini jumlah investasi di sektor properti belum memberikan konfirmasi yang pasti bagi para investor. Oleh karena itu, sinyal sektor properti akan bisa dilihat di sektor financial asset terlebih dahulu.

Lantas, bagaimana rekomendasi Anda untuk saham-saham di sektor properti?

Dengan demikian, saya merekomendasikan saham-saham di sektor properti untuk investasi jangka panjang, karena positifnya prospek sektor ini. Karena katalisnya masih bersifat prospektif, saya melihat internal emiten juga menjadi faktor penting untuk menjadi pertimbangan saham properti mana yang bisa dimasukkan ke depan di portofolio kita.

Untuk investasi di saham-saham sektor properti, apa saja yang bisa dijadikan patokan saat ini jika amnesti pajak bersifat jangka panjang?

Untuk sekarang, rujukannya adalah kinerja fundamental emiten saat ini (existing) tanpa adanya amnesti pajak.

Saham-saham pilihan Anda?

Untuk pilihan sahamnya, saya melihat saham PT Pakuwon Jati (PWON) yang kinerja fundamentalnya saat ini masih bagus. Target harga untuk saham PWON di Rp680 hingga full year 2016. Saat ini saham PWON berada di Rp615 sehingga upside potensial-nya sangat besar.
Kita bisa lebih agresif di saham ini karena melihat fundamentalnya cukup kuat sehingga jadi bumper investasi, tidak perlu menunggu besarnya dana masuk dari amnesti pajak dan sebagainya. Saya sarankan langsung beli untuk saham PWON.

Begitu juga dengan saham PT Intiland Development (DILD) yang potensinya cukup bagus jika melihat kinerja keuangannya yang mereka capai. Untuk target harga DILD saya belum memberikan valuasinya.
Untuk mengharapkan koreksi dalam waktu dekat di saham-saham properti terlihat agak berat, karena katalis positifnya cukup banyak. Saya hanya melihat positif saham-saham second liners.

Bagaimana dengan saham-saham di lapis pertama?

Untuk yang first liners, seperti PT Summarecon Agung (SMRA) kita belum melihatnya, karena kinerjanya hingga tahun ini masih tumbuh tapi konservatif, tidak agresif. SMRA belum melakukan perubahan target pendapatan mereka. Mereka masih optimistis tapi katalis-katalis tadi dari makro ekonomi belum akan memberikan perubahan positif yang signifikan pada laporan keuangan mereka. (jaw)

LEAVE A REPLY