Nissan : Jangan Samakan Livina dengan Xpander

IVOOX.id, Jakarta — Setelah dinanti-nanti kehadirannya oleh konsumen di Indonesia, akhirnya PT Nissan Motor Indonesia (NMI) meluncurkan All New Livina bersamaan dengan diluncurkannya All New Serena.

Yang menarik di antara kedua MPV baru lansiran Nissan ini adalah sosok baru All New Livina yang identik dengan Mitsubishi Xpander.

Bagi sebagian masyarakat yang mengetahui adanya aliansi antara grup Renault-Nissan dengan Mitsubishi Motor Corporation (MMC) kehadiran Livina yang identik dengan Xpander tentu tidak mengajutkan.

Pada saat peresmian pabrik baru Mitsubishi di Cikarang, April 2017 silam, Chairman MMC dan Aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi yang kala itu dijabat oleh Carlos Ghosn pernah menyatakan bahwa pabrik tersebut akan menjadi basis produksi dan ekspor untuk aliansi (Nissan-Mitsubishi).

Regional Senior Vice President, Head of Operations Commite for Asia & Oceania, President of NMAP Yutaka Sanada mengakui bahwa All New Livina memang dibuat dengan platform yang sama dengan Xpander, namun ia tidak setuju jika Livina disamakan dengan MPV buatan Mitsubishi.

Karena menurut Yutaka, pihaknya telah mencurahkan segenap kemampuannya untuk melahirkan Livina generasi baru.

“Kami tidak sekadar menyematkan logo Nissan pada produk Mitsubishi. Kami sangat berhati-hati dalam pengembangan produk untuk menjaga standar kualitas Nissan. Memang benar ini adalah produk aliansi yang sama, tapi kami ingin menggarisbawahi bahwa All New Livina adalah murni Nissan,’ tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa saat di pasar nanti Xpander bahkan akan menjadi salah satu pesaingnya.

Yutaka Sanada mengungkapkan banyak hal yang dilakukan oleh Nissan pada pengembangan Livina baru ini untuk menegaskan bahwa mobil ini adalah sebuah produk Nissan.

Diantaranya adalah penyematan Traction Control System, Hill Start Assist, Vehicle Dynamic Control, dan yang paling spesifik adalah fungsi konektivitas.

Selain itu Nissan juga telah melakukan pengembangan pada material tempat duduk yang bisa dirasakan perbedaannya oleh konsumen karena terkait kenyamanan.

Ia mencontohkan pengembangan yang dilakukan oleh Nissan pada sektor interior, terutama pada bagian ‘wajah’.

“Kami juga sangat hati-hati melakukan pengembangan pada bagian eksterior untuk menjaga ciri khas Nissan. Jadi ketika orang mengamati sepintas saja, ia harus langsung mengetahui bahwa itu adalah sosok sebuah Nissan, bukan yang lain,” ungkap Yutaka san kepada Media Indonesia.

Masih di sela-sela peluncuran All New Livina dan All New Serena, Yutaka juga mengungkapkan rencana besar Nissan untuk Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi target elektrifikasi perusahaannya.

“Saya ingin menyampaikan bahwa saat ini fokus kami sesungguhnya adalah ingin segera menghadirkan elektrifikasi ke Indonesia,” ujarnya.

Nissan sangat meyakini kendaraan listrik akan menjadi penunjang utama mobilitas masa depan sekaligus sebagai solusi untuk menekan polusi udara di berbagai belahan dunia.

Oleh karena itu perusahaan ini getol memperkenalkan teknologi masa depan Nissan ke berbagai negara. Salah satunya melalui acara konferensi Nissan Futures yang digelar tahun lalu di Singapura.

Dalam konferensi tersebut, Indonesia di sebut-sebut sebagai salah satu dari sembilan negara yang ditargetkan untuk pemasaran Nissan Leaf yang saat ini masih dalam taraf studi bersama Filipina.

Tujuh negara sisanya sudah ditetapkan sebagi target karena regulasinya sudah mendukung. Ketujuh negara itu adalah Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Hong Kong, Selandia Baru, dan Australia.

Perusahaan otomotif Jepang ini memang diakui sebagai salah satu produsen mobil listrik yang sukses di dunia dengan Nissan Leaf-nya. Kendaraan bertenaga listrik murni ini dibekali dengan berbagai teknologi canggih yang jarang ada di mobil-mobil kebanyakan. Kemampuannya pun berada di atas rata-rata mobil sejenis sehingga mobil listrik ini berhasil memikat konsumen dan cukup laris di pasaran.

Menurut Yutaka butuh upaya keras untuk bisa menghadirkan kendaraan listrik di Indonesia, terkait berbagai hal. Butuh dorongan dari masyarakat dan dukungan dari pemerintah dalam hal regulasinya.

Saat ini pihaknya masih terus melakukan studi untuk bisa segera memperkenalkan mobilitas masa depan yang lebih aman dan nyaman serta ramah lingkungan dengan kendaraan-kendaraan beremisi nol.

Hasil dari studi sementara, Yutaka mengatakan bahwa Indonesia untuk sementara ini masih lebih cocok dengan kendaraan hybrid. Oleh karena itu dalam jangka pendek Nissan berencana menghadirkan kendaraan hybrid di Indonesia. “Tunggu saja. Kami akan membawa teknologi E-Power kami,” ujarnya.

Penasaran dengan ‘ancaman’ itu, Media Indonesia mencari informasi soal E-Power. Rupanya ini adalah sistem hybrid andalan Nissan yang diklaim berbeda dengan sistem mobil hybrid yang sudah ada di Indonesia. Umumnya motor listrik pada kendaraan hybrid berfungsi ‘menyumbang’ tenaga tambahan untuk mesin konvensional, tapi tidak demikian dengan E-Power hybrid Nissan.

Mesin yang disematkan pada E-Power hanya bertugas untuk membangkitkan listrik yang digunakan untuk mengisi daya ke baterai yang menyuplai listrik ke motor listrik. Kelebihannya mesin bensin dapat beroperasi pada putaran paling optimal dan efisien secara konstan. Oleh karena itu mesin dapat lebih banyak menghasilkan energi dengan konsumsi bahan bakar paling rendah.

Dari segi performa juga memberikan banyak kelebihan. Tenaga motor listrik menghasilkan torsi yang instan sejak rpm rendah. Penyaluran dayanya yang linier membuat akselerasi lebih halus namun dengan kekuatan yang tinggi. E-Power mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar sebesar 30%. Nissan mengklaim E-Power mampu mempercepat akselerasi 0-60 mil/jam dari 14 detik menjadi 10 detik. (Adhi Teguh)

LEAVE A REPLY