Mengamati Gunung Api, Jalan Hidup Pria Asal NTT Ini…

IVOOX.id, Kalianda – Ditemani dua unit komputer pantau, alunan suara musik dan penyiar radio dengan aksen khas Lampung menemani rutinitas Sabtu (9/3) siang Hendra. Tak jauh dari situ, aktivitas warga di luar Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gunung Anak Krakatau, Kalianda, Lampung Selatan nampak riuh. Mereka berbondong-bondong menyelesaikan pembangunan gapura untuk komplek beberapa instrumen desa.

Lingkungan sekitar pos PGA Kalianda memang jadi daya tarik warga. Lokasinya yang berada di kompleks bangunan Belanda cukup memikat demi sebatas swafoto atau edukasi sejarah, terutama terdapat Dapur Belanda. Ditambah lagi, Pos PGA Kalianda berdekatan pula dengan kantor Kepala Desa.

Satu setengah bulan sudah Hendra menentap di Kalianda. Bercengkrama, melempar tawa hingga berkebun bersama warga. Sebelumnya, selama 15 tahun Hendra ditugaskan di Flores, Nusa Tenggara Timur, mengamati Gunung Api Lewtobi. Kemudian beralih ke Kalianda sejak tanggal 29 Januari 2019.

Hendra bahkan rela meninggalkan keluarganya di sana. Ia hanya bisa pulang ke rumahnya setahun sekali. Itu pun hanya sekitar tiga hari menikmati rasa rindu bersama keluarga. Jarak tempuh yang jauh jadi persoalan tersendiri.

“Pulang setahun sekali dengan kapal laut dan bus umum. Pokoknya, kalau sudah ingat keluarga, hanya bisa merenung saja di kamar,” bincang Hendra sambil terkekeh-kekeh.

Saat kondisi Anak Krakatau yang sedang siaga, Hendra semakin minim memiliki kesempatan bersua keluarga. Meski demikian, Hendra bersedia mengorbankan waktu untuk keluarga demi menjaga sang Anak Krakatau. Tercatat mulai Juni 2018 hingga Januari 2019, gunung tersebut mengalami erupsi yang insentif dengan energi tremor yang fluktuatif.

Namun, meski potensi erupsi masih ada, sejak tanggal 25 Maret 2019 pukul 12.00 WIB, Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM menurunkan status Gunungapi Anak Krakatau dari LEVEL III (Siaga) menjadi LEVEL II (Waspada) dengan radius aman menjadi 2 kilo meter (km) dari sebelumnya 5 km.

“Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau diturunkan dari LEVEL III (Siaga) menjadi LEVEL II (Waspada) terhitung tanggal 25 Maret 2019 pukul 12.00 WIB,” kata Kepala Badan Geologi saat jumpa pers di kantor Kementerian ESDM di hari yang sama.

Kini, Hendra yang sudah menghabiskan waktu 15 tahun mengamati Gunung Api tersebut menjelaskan tugas sehari-hari pengamat gunung api. Dalam satu pos terdiri dari tiga personel. Ada Andi selaku Kepala pos PGA Kalianda dan Warno yang sedang berangkat ke Pulau Sebesi melakukan survei lokasi, mencari titik kordinat untuk pemasangan perangkat dan alat pendukung pengamatan gunung api.

Bersama rekannya, Hendra silih berganti menghabiskan waktu memantau aktivitas Anak Krakatau. Alat bantu seperti seismograf, pengukur arah angin, dan citra satelit memudahkan pekerjaannya. Dalam kondisi normal, pengamat gunung api akan menganilis dan membuat laporan setiap 12 jam atau 24 jam.

“Kami disediakan motor operasional untuk mobilitas pengiriman laporan bulanan ke kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di kota Bandar Lampung,” kata Hendra.

Meski berat, menjadi pengamat Gunung Api bukan pekerjaan biasa. Pria asli NTT tersebut menerima secara lapang dada pekerjaan ini sebagai jalan pengabdiannya untuk masyarakat. Apalagi, ia faham betul fungsi dan penting posisinya sebagai garda terdepan pencegahaan dan mitigasi bencana di daerah sekarang dia bertugas. “Mencari pengalaman hidup dan menambah pengetahuan,” tuturnya.

Mencatat data hasil pengamatan visual aktivitas Gunung Anak Krakatau adalah keseharian Hendra sebagai jalan hidupnya. Selain itu, ia punya tugas dan fungsi mengoperasikan seluruh peralatan yang ada di Pos PGA setiap hari, membaca data/mengoleksi hasil rekaman instrumen setiap hari, membuat/mengirimkan laporan harian ke kantor PVMBG di Lampung melalui radio SSB, membuat laporan mingguan dikirimkan ke kantor PVMBG di Lampung, Camat, dan Lurah setempat.

Tak hanya itu, Hendra juga embuat laporan bulanan dikirmkan ke kantor PVMBG di Lampung tembusan Bupati, Camat, dan Lurah setempat, memberikan sosialisasi secara berkala kepada masyarakat yang bermukim di sekitar gunung Anak Krakatau yang diamatinya dan melayani/memberikan informasi kegunungapian kepada masyarakat yang datang ke Pos PGA.

Sebagai negara yang dilalui oleh jalur pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik, Indonesia kaya akan gunung api. Tidak kurang dari 127 Gunung api aktif, 69 dipantau secara intensif, dari 75 pos pengamatan. Gunung api kita bervariasi. Ada yang menjulang ke angkasa langit biru, tetapi ada juga yang tersembunyi beberapa meter di bawah permukaan laut, yang hanya dapat dikenali mata awam dari buih riak panas beraroma belerang di sekitarnya.

Banyaknya gunung api aktif menjadi setumpuk pekerjaan tersendiri bagi para Pengamat Gunung Api. Mereka secara berkala mengukur tremor, suhu, dan gejala vulkanik lainnya termasuk perilaku hewan sekitar, untuk menentukan status gunung apakah pada level aktif normal, waspada, siaga atau awas. Dan Hendra memilih memantapkan hatinya menekuni pekerjaan ini.(esdm.go.id)