Maret 2018, Aset Perusahaan Pembiayaan Tumbuh 7,65% ke Rp483,92 Triliun

IVOOX.id, Jakarta – Aset industri perusahaan pembiayaan dilaporkan mencapai Rp483,92 triliun per Maret 2018. Angka tersebut tumbuh 7,65 persen atau sebesar Rp34,4 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Demikian sebagaimana dicatat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Deputi Komisioner Pengawas IKNB II OJK, Ihsanuddin mengatakan, industri perusahaan pembiayaan dari sisi aset, profitabilitas, dan jumlah pembiayaan termasuk NPF mengalami pertumbuhan.

“Kegiatan usaha industri perusahaan pembiayaan antara lain bergerak di sektor pembiayaan konsumen, leasing, hingga kartu kredit,” kata dia dalam diskusi mengenai perkembangan perusahaan pembiayaan di Jakarta, Senin (21/5/2018).

Sumber pendanaan dari perusahaan pembiayaan, lanjut dia, mayoritas berasal dari pinjaman, baik dari luar negeri, dalam negeri, maupun penerbitan surat berharga obligasi dan surat utang jangka menengah (medium-term note/MTN).

Ihsanuddin memaparkan, pendanaan industri tersebut tumbuh 8,40 persen (yoy), dengan rincian sumber pendanaan dalam negeri Rp179,8 triliun (52,5 persendari total pinjaman), luar negeri Rp91,2 triliun (27 persen), dan penerbitan surat berharga obligasi dan MTN Rp71,7 triliun (20,9 persen).

Piutang pembiayaan industri perusahaan pembiayaan juga meningkat 6,08 persen (yoy), atau secara nominal meningkat Rp24,02 triliun, dengan nilai outstanding per akhir Maret 2018 sebesar Rp419,2 triliun.

Kemudian, laba perusahaan-perusahaan pembiayaan di tiga bulan pertama 2018 tercatat Rp3,74 triliun atau tumbuh 20,56 persen (yoy).

Ihsanuddin mengatakan peningkatan laba industri tersebut juga meningkatkan ROA (return on asset) 4,36 persen dan ROE (return on equity) 13,20 persen.

Sementara rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) per akhir Maret 2018 tercatat 1,17 persen (nett) dan 3,25 persen (gross).

“Angka tersebut terjadi peningkatan, untuk year-on-year juga gross sekitar 3,16 persen. Naiknya tidak terlalu banyak, dan ini juga dialami oleh industri yang menyalurkan pembiayaan,” pungkas Ihsanuddin. (jaw)