KLHK Berbagi Pembelajaran, Mengembangkan Ekonomi Lokal dan Keberlanjutan SDA di Tingkat Tapak

IVOOX.id, Jakarta — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Selasa, 19 Februari 2019. Praktek-praktek terbaik dalam pengelolaan hutan dan lingkungan di kalimantan, dikemas dalam bentuk Buku berjudul “Berbagi Pembelajaran dari Inisiasi Program FORCLIME FC”. Program Forest and Climate Change Financial Cooperation (FORCLIME FC) adalah program kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Federal Jerman yang bertujuan mengurangi emisi gas rumah kaca, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan pengelolaan hutan lestari. Pelaksanaan program di Kabupaten Berau, Malinau, dan Kapuas Hulu ini telah memasuki tahun ke-9 dari durasi 10 tahun dan dinyatakan telah mencapai target dengan baik dan berdampak positif oleh Konsultan Independent tahun 2018. 

Kepala Biro Perencanaan KLHK selaku Program Executing Agency FORCLIME FC, Ayu Dewi Utari mengatakan FORCLIME FC melakukan kegiatan Participatory Land Use Planning melalui dua pendekatan kegiatan, yaitu penyelesaian batas desa dan penggunaan lahan secara partisipatif. Program FORCLIME FC telah melakukan penyelesaian batas di 17 desa di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, 22 desa di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur dan 6 desa di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Kegiatan penatagunaan lahan secara partifipatif telah dilakukan di 7 desa di Kabupaten Kapuas Hulu dan 23 desa di Kabupaten Berau. 

“Sampai dengan bulan Desember 2018 program FORCLIME FC telah melakukan Penanaman di Kabupaten Kapuas Hulu sejumlah 958 ribu batang, 1,89 juta batang di Kabupaten Berau, dan 141 ribu batang di Kabupaten Malinau. Program FORCLIME FC telah melakukan patroli hutan seluas 146 ribu Ha di Kabupaten Kapuas Hulu, 636 ribu HA di Kabupaten Berau dan 98 ribu Ha di Kabupaten Malinau” jelas Ayu Dewi dalam acara Bedah Buku, Selasa (19/02/2019) di Jakarta. 

Selain itu, menurut Ayu Dewi program FORCLIME FC juga mendukung dalam penguatan perhutanan sosial melalui fasilitasi pengajuan skema Hutan Desa di 15 desa di Kabupaten Kapuas Hulu, Berau dan Malinau, membangun kelembagaan, rencana pengelolaan jangka pendek, dan rencana pengelolaan jangka panjang. Telah diperoleh 10 SK Hutan Desa, 7 Hutan Desa di Kabupaten Kapuas Hulu dan 3 desa di Kabupaten Berau.   

Sebagai sebuah lesson learned, proses dokumentasi buku dilakukan oleh tim FORCI Development, Fakultas Kehutanan IPB untuk menangkap dan menyajikan cerita-cerita menarik dari investasi kegiatan program FORCLIME FC yang telah dilaksanakan di desa-desa kelompok sasaran yang terletak di dalam Demonstration Activities (DA) maupun di dalam zona penyangganya. 

Cerita menarik disajikan oleh tim terkait dengan peran investasi kegiatan program terhadap upaya penurunan emisi karbon, sebagai sasaran utama program ini. “Bukan hanya terkait keberhasilan, tetapi juga hambatan dan tantangan kedepan sebagai sebuah pembelajaran yang  bisa diambil dari pelaksanaan investasi kegiatan yang telah berlangsung sejak tahun 2010 di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Berau” jelas Hangga Prihatmaja selaku Editor dan salah satu tim penyusun buku tersebut.

Dalam mendokumentasikan investasi kegiatan program FORCLIME FC, dikatakan Hangga ditetapkan tema cerita yang dibagi ke dalam tiga bagian terpisah di buku ini, yaitu Pembangkitan Potensi Sumberdaya Masyarakat Desa, Kepastian Ruang Kelola Investasi Masyarakat Desa, dan Pengembangan Ekonomi Lokal Masyarakat Desa. Ketiga topik tersebut menitikberatkan pada cerita pembangunan ekonomi lokal yang menjadi jawaban atas kerentanan dalam mencapai sasaran penurunan emisi akibat dari kegiatan deforestasi dan degradasi hutan di dalam DA di dua kabupaten, yaitu Kapuas Hulu dan Berau.

Buku ini juga menceritakan tentang bentuk investasi kegiatan di desa-desa kelompok sasaran yang menghadirkan aliran manfaat paling optimal bagi masyarakat desa. Hal ini ditunjukkan melalui geliat ekonomi yang saat ini terjadi di desa sebagai dampak stimulan investasi kegiatan program FORCLIME FC, pengetahuan dan pengalaman apa yang berkembang di antara pelaksana program, dan konteks dana bergulir yang menjamin kemandirian kelompok sasaran dalam melaksanakan investasi kegiatan setelah program FORCLIME FC berakhir. Dari cerita tersebut muncul pernyataan menarik bahwa apabila masyarakat sejahtera, hutan sudah pasti lestari. 

“Buku ini diharapkan dapat dijadikan bahan rujukan dan pembelajaran bagi program lain yang sedang atau akan melakukan projek terkait pengelolaan hutan atau sumber daya alam lainnya”, pungkas Ayu Dewi. (Adhi Teguh)

LEAVE A REPLY