Manulife Aset Manajemen Indonesia

Kebijakan BI Jaga Rupiah Tentukan Pergerakan IHSG

IVOOX.id, Jakarta – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia menilai kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang dapat menunjang pergerakan pasar saham Indonesia ke arah yang lebih tinggi ke depan.

“Kebijakan aktif dari Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi salah satu faktor yang menunjang pasar saham domestik,” papar Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Krizia Maulana, dalam kajiannya yang dirilis di Jakarta, Minggu (16/9).

Selain faktor rupiah, lanjut dia, valuasi dari pasar saham Indonesia yang semakin atraktif juga turut menjadi faktornya.

“Kalau kita lihat posisi investor asing terhadap pasar saham Indonesia boleh dikatakan lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga diharapkan tekanan jual asing pun juga akan berkurang,” katanya, dikutip Antara.

Selain itu, ia mengatakan, situasi politik yang lebih kondusif untuk saat ini. Secara umum pasar negara berkembang, khususnya Indonesia akan diuntungkan dari stimulus ekonomi Tiongkok dan jika ada perubahan nada kebijakan dari The Fed.

Ia menambahkan kondisi fiskal yang saat ini sudah jauh lebih sehat menambah faktor positif bagi pasar saham domestik. Dimana kenaikan pendapatan negara berada jauh di atas biaya dari belanja negara.

“Per 31 Juli 2018, penerimaan dari pajak tumbuh 14 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan belanja negara sekitar 7 persen per tahunnya. Disamping itu, RAPBN di 2019 lebih kredibel dan memiliki semacam perhatian khusus dalam menunjang daya beli masyarakat,” jelasnya.

Sementara sentimen eksternal, menurut Krizia Maulana, jika lebih ada kepastian dalam hal terkait konflik dagang dan normalisasi dari kebijakan moneter AS akan mendukung faktor positif dari dalam negeri itu.

Terkait kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mencatatkan minus 5,31 sepanjang tahun ini (year to date/YTD), Krizia Maulana berpandangan bahwa penurunan yang terjadi pada pasar finansial Indonesia di tahun ini, lebih disebabkan oleh faktor sentimen bukan semata faktor fundamental.

“Kalau kita lihat, beberapa negara lainnya di kawasan Asia juga mengalami pelemahan baik di pasar finansial maupun nilai tukarnya,” katanya.

Ia memaparkan beberapa sentimen yang dimaksud diantaranya normalisasi kebijakan moneter dari Amerika Serikat, konflik dagang yang berkepanjangan, serta adanya kekhawatiran mengenai “emerging market risk off sentiment”.