Kalla Tunjuk Besarnya Impor Migas Sebagai Penyebab Defisit Perdagangan

IVOOX.id, Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla menjelaskan salah satu penyebab defisit neraca perdagangan Indonesia adalah impor migas yang terlalu besar.

Oleh karena itu, Wapres menyatakan perlu didorong peningkatan kapasitas produksi energi dalam negeri.

“Ada dua hal yang menyebabkan perdagangan kita defisit yakni impor migas yang terlalu besar, kemudian juga ekspor kita naik, tapi tidak sebesar (nilai) impor kita. Artinya, adalah kita harus lebih meningkatkan kapasitas dalam bidang energi,” kata JK saat memberikan kuliah umum Indonesia and the World: Future Trajectory Opportunities and Challenges di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, Kamis (17/1).

Wapres mengatakan upaya pertama yang harus dilakukan untuk memperbaiki defisit neraca perdagangan tersebut adalah dengan meningkatkan nilai tambah produksi dalam negeri.

“Dalam menghadapi tersebut tentu masalah-masalah yang kita hadapi ialah bagaimana meningkatkan nilai tambah daripada negeri kita. Itu tentu menjadi bagian pertama yang harus kita lakukan untuk memperbaiki neraca perdagangan,” jelasnya, dikutip Antara..

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia pada 2018 mengalami defisit terbesar sejak 1975, yakni mencapai 8,57 miliar dolar AS.

“Kalau kita lihat penyebabnya adalah lebih karena defisit migas yakni 12,4 miliar dolar AS. Sementara nonmigasnya kita masih surplus 4,8 miliar dolar AS,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Rabu (15/1/2019).

Ia menyampaikan defisit neraca perdagangan pada 2014 tercatat sebesar 2,20 miliar dolar AS, pada 2013 sebesar 4,08 miliar dolar AS, dan pada 1975 sebesar 391 juta dolar AS.

Ia menambahkan selama 2018 perdagangan Indonesia dengan beberapa negara mengalami surplus, di antaranya dengan India surplus sebesar 8,76 miliar dolar AS, Amerika Serikat surplus hingga 8,56 miliar dolar AS dan Belanda surplus 2,6 miliar dolar AS.

Sementara, perdagangan mengalami defisit, di antaranya dengan Tiongkok 20,8 miliar dolar AS, Thailand 5,1 miliar dolar AS dan Australia 2,9 miliar dolar AS.