MNC Sekuritas

Harga SUN Diproyeksikan Bergerak Terbatas Dalam Bayang Koreksi

IVOOX.id, Jakarta – MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara akan cenderung bergerak terbatas pada perdagangan hari ini, Senin (17/12) dan berisiko mengalami koreksi didorong oleh sentimen dari gejolak pasar saham global.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan hal tersebut akan meningkatkan persepsi risiko dari instrumen surat utang negara – negara berkembang.

Sementara itu dalam sepekan kedapan pelaku pasar akan mencermati agenda rapat Dewan Gubernur dari beberapa Bank Sentral, yaitu Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika (FOMC Meeting) yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 – 19 Desember 2018, Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Inggris, Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Jepang dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 20 Desember 2018.

Selain agenda Rapat Dewan Gubernur, beberapa data ekonomi yang cukup penting akan disampaikan pada pekan ini, di antaranya adalah data pertumbuhan ekonomi Amerika kuartal III 2018 (final) pada hari Jumat 21 Desember 2018 dan data pertumbuhan Utang Luar Negeri (ULN) yang akan disampaikan oleh Bank Indonesia pada hari ini, 17 Desember 2018.

“Dengan cukup banyaknya data ekonomi maupun agenda Rapat Dewan Gubernur yang akan dilaksanakan pada pekan ini, maka kami perkirakan hal tersebut akan mempengaruhi pergerakan harga Surat Utang Negara di pasar sekunder terutama dari agenda FOMC Meeting di pertengahan pekan ini,” katanya dalam riset harian, Senin (17/12/2018).

Review (Jumat, 14 Desember 2018)

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan hari Jumat, 14 Desember 2018 bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami penurunan di tengah kembali tertekannya nilai tukar Rupiah.

Perubahan harga yang terjadi hingga sebesar 60 bps yang berdampak terhadap perubahan tingkat imbal hasil hingga sebesar 9 bps.

Harga Surat Utang Negara dengan teor pendek mengalami perubahan harga hingga sebesar 10 bps yang mendorong terjadinya kenaikan tingkat imbal hasilnya hingga sebesar 5 bps.

Sementara itu, harga Surat Utang Negara dengan tenor menengah mengalami penurunan hingga sebesar 10 bps yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasilnya hingga sebesar 3 bps.

Sedangkan perubahan harga hingga sebesar 60 bps terjadi pada Surat Utang Negara dengan tenor panjang yang menyebabkan terjadinya perubahan tingkat imbal hasilnya hingga sebesar 9 bps.

Perubahan harga yang bervariasi juga didapati pada Surat Utang Negara seri acuan, di mana tenor 5 tahun dan 15 tahun mengalami penurunan harga masing – masing sebesar 10 bps dan 7 bps yang mendorong kenaikan imbal hasilnya berturut – turut sebesar 3 bps dan 1 bps di level 8,032% dan 8,223%.

Sementara itu, kenaikan harga sebesar 50 bps dan 5 bps didapati pada Surat Utang Negara seri acuan dengan tenor 10 tahun dan 20 tahun telah mendorong terjadinya penurunan imbal hasilnya berturut – turut sebesar 9 bps dan kurang dari 1 bps di level 8,070% dan 8,447%.

Dalam sepekan terakhir, harga Surat Utang Negara cenderung mengalami penurunan yang menyebabkan terjadinya kenaikan imbal hasil rata – rata sebesar 8,5 bps di tengah faktor pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Imbal hasil Surat Utang negara dengan tenor 10 tahun dalam sepekan mengalami kenaikan sebesar 8 bps sementara itu untuk tenor 2 tahun mengalami kenaikan sebesar 2 bps.

Pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung mengalami penurunan pada perdagangan di akhir pekan kemarin didorong oleh faktor kembali melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.

Melemahnya nilai tukar rupiah tersebut menyebabkan pelaku pasar untuk melakukan penjualan Surat Utang Negara di pasar sekunder. Hanya saja, pelaku pasar masih cenderung menahan diri untuk melakukan transaksi yang tercermin pada volume perdagangan yang tidak begitu besar.

Dalam sepekan terakhir, pergerakan harga Surat Utang Negara yang cenderung mengalami penurunan didorong oleh faktor pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika serta keluarnya investor asing dari Surat Berharga Negara.

Faktor eksternal lebih banyak mempengaruhi pergerakan harga Surat Utang Negara pada sepekan terakhir, seperti gejolak yang terjadi pada pasar keuangan global serta keputusan Bank Sentral Eropa untuk mengakhiri program stimulus moneter pada bulan Desember 2018.

Dari perdagangan Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika, perubahan harga yang terjadi relatif terbatas dengan kecenderungan mengalami kenaikan.

Kenaikan harga tersebut didorong oleh faktor membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS) serta penurunan imbal hasil US Treasury. Hanya saja, kenaikan harga yang terjadi relatif terbatas jelang pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika (FOMC Meeting) yang akan diadakan pada pekan ini.

Harga dari INDO23 dan INDO43 mengalami kenaikan masing – masing sebesar 4 bps dan 8,5 bps yang menyebabkan terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya hingga sebesar 1 bps masing – masing di level 4,196% dan 5,202%.

Adapun harga dari INDO28 mengalami penurunan harga terbatas, sebesar 3 bps sehingga tingkat imbal hasilnya tidak banyak mengalami perubahan di level 4,580%.

Dalam sepekan terakhir, imbal hasil Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika cenderung mengalami penurunan seiring dengan penurunan imbal hasil US Treasury di tengah gejolak yang terjadi di pasar saham global mendorong investor untuk menempatkan dananya pada instrumen yag lebih aman.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan di akhir pekan senilai Rp8,75 triliun dari 36 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan senilai Rp2,77 triliun.

Obligasi Negara Ritel seri ORI015 mendominasi perdagangan Surat Utang Negara senilai Rp2,162 triliun dari 1446 kali transaksi dengan harga rata – rata 100,29% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0063 senilai Rp1,669 triliun dari 15 kali transaksi di harga rata – rata 91,30%.

Adapun Project Based Sukuk seri PBS016 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp161,00 miliar dari 9 kali transaksi yang diikuti oleh perdagangan seri PBS012 senilai Rp133,00 miliar dari 13 kali transaksi. Adapun dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp1,16 triliun dari 37 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan I Sarana Multi Infrastruktur Tahap III Tahun 2018 Seri A (SMII01ACN3) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp318,00 miliar dari 11 kali transaksi di harga rata – rata 100,01% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV Sarana Multigriya Finansial Tahap IV Tahun 2018 Seri A (SMFP04ACN4) senilai Rp180,00 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata – rata 99,12%.

Sementara itu, Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Astra Sedaya Finance Tahap I Tahun 2018 Seri A (SMASDF01ACN1) menjadi sukuk korporasi dengan volume perdagangan terebsar, senilai Rp3,00 miliar dari 3 kali transaksi di harga rata – rata 99,72%.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika pada perdagangan di akhir pekan ditutup dengan mengalami pelemahan, sebesar 94,80 pts (0,58%) di level 14581,30 per dollar Amerika, setelah bergerak dengan tren mengalami pelemahan pada kisaran 14513,00 hingga 14592,50 per dollar Amerika.

Pelemahan nilai tukar rupiah pada akhir pekan kemarin terjadi di tengah mata uang regional yang mengalami pelemahan terhadap dollar Amerika. Mata uang won Korea Selatan (KRW) memimpin pelemahan mata uang regional, sebesar 0,65% yang diikuti oleh mata uang rupiah dan peso Philippina (PHP) sebesar 0,47%.

Sementara itu, dalam sepekan terakhir, pergerakan nilai tukar regional juga terlihat mengalami pelemahan, dengan dimpimpin oleh mata uang rupee India (INR) sebesar 1,40% dan won Korea Selatan sebesar 0,98%.

Mata uang rupiah dalam sepekan bergerak dengan mengalami pelemahan sebesar 0,72%. Imbal hasil surat utang global pada akhir pekan kemarin ditutup dengan mengalami penurunan di tengah koreksi yang terjadi di pasar saham global mendorong investor untuk menempatkan dananya pada aset yang lebih aman (safe haven asset).

Imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan 30 tahun ditutup dengan penurunan masing – masing di level 2,895% dan 3,152% setelah pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan sebesar 2,02% untuk indeks saham DJIA dan sebesar 2,26% untuk indeks saham NASDAQ.

Imbal hasil dari surat utang Inggris dan Jerman juga ditutup dengan mengalami penurunan, masing – masing di level 1,246% dan 0,261% di tengah koreksi yang terjadi di pasar saham kedua negara tersebut serta ketegangan geopolitik di kawasan Uni Eropa.

Imbal hasil surat utang Jepang ditutup dengan mengalami penurunan, di level 0,027% yang merupakan penurunan imbal hasil surat utang global terbesar, yaitu 48,09% dari posisi pentupan sebelumnya di level 0,052%.

Dalam sepekan terakhir, imbal hasil surat utang global bergerak dengan arah perubahan yang bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan.