Bursa Saham Global

Bursa Saham Global Gapai Level Tertinggi Satu Tahun

iVooxid, London – Pasar saham global mencapai tingkat tertinggi hampir setahun pada Senin, karena para investor mengurangi kembali ekspektasi kapan suku bunga AS akan naik, meskipun penurunan saham perbankan setelah “stress test” mengambil kegembiraan di pasar saham Eropa.

Namun, Wall Street, tampak bersiap untuk dibuka lebih tinggi, menurut indeks berjangka, yang berpotensi memberikan dorongan naik lagi bagi indeks saham global MSCI, yang menyentuh tingkat tertingginya sejak pertengahan Agustus 2015 sebelum sedikit mundur kembali.

Dolar naik terhadap yen tetapi bertahan dekat posisi terendah setelah angka pertumbuhan AS lebih lemah dari perkiraan pada Jumat (29/7/2016), menempatkan sorotan pada data ketenagakerjaan bulanan yang akan dirilis pekan ini.

Saham-saham Eropa awalnya naik, tapi menyerahkan keuntungan mereka karena bank-bank secara luas berbalik ke wilayah negatif, menyusul rilis hasil “stres test” (uji ketahanan) pada 51 pemberi pinjaman Uni Eropa.

Indeks STOXX 600 pan-Eropa turun 0,6 persen, dipimpin penurunan 2,0 persen di sub-indeks bank-bank.

Di antara penderita penurunan terbesar hari ini adalah UniCredit Italia, jatuh 7,4 persen dan Raiffeisen Austria turun 6,5 persen.

Kekhawatiran investor telah difokuskan pada Italia, di mana bank-banknya terbebani kredit macet (non-performing loans) sebesar 360 miliar euro.

Monte dei Paschi Italia, bank tertua di dunia, bernasib di antara yang terburuk dalam “stress test” tapi meluncurkan rencana penyelamatan kurang dari satu jam sebelum hasil uji ketahanan keluar.

Saham Monte dei Paschi naik 4,5 persen pada Senin dan berada di antara pencetak keuntungan terbesar (top gainers) Eropa. Imbal hasil obligasi pemerintah Italia mencapai posisi terendah 17-bulan.

Indeks lebih luas MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang, naik 1,3 persen, mencapai tingkat tertinggi dalam sekitar satu tahun.

“Para investor telah mengalihkan uang ke Asia, yang kemungkinan akan sedikit dipengaruhi oleh Brexit dan karena Fed AS tampaknya tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga,” kata Yukino Yamada, analis senior di Daiwa Securities.

Data aktivitas pabrik atau manufaktur dari Tiongkok melukiskan gambaran yang beragam. Indeks Pembelian Manajer (PMI) resmi menunjukkan kontraksi mengejutkan pada Juli tetapi PMI pribadi lebih kuat dari perkiraan dan menandai ekspansi pertama sejak Februari 2015.

Saham-saham Tiongkok berakhir jatuh ke terendah satu bulan karena tindakan keras peraturan terhadap spekulasi.

Indeks Nikkei Tokyo ditutup naik 0,4 persen, dipimpin oleh saham-saham keuangan karena yen jatuh terhadap dolar.

Yen, yang melonjak pada Jumat setelah langkah-langkah stimulus ekonomi dari bank sentral Jepang (BoJ) dan data pertumbuhan AS mengecewakan investor, turun 0,2 persen menjadi 102,21 per dolar.

Euro sedikit melemah pada 1,1165 dolar.

Sterling melemah 0,4 persen menjadi 1,3171 dolar setelah data menunjukkan manufaktur Inggris menyusut pada Juli di laju tercepat dalam tiga tahun dan sebelum pertemuan bank sentral Inggris (BoE) pada Kamis, di mana bank secara luas diharapkan akan menurunkan suku bunga.

Inggris pada 23 Juni memutuskan untuk meninggalkan Uni Eropa, sebuah tindakan yang mendorong sterling melemah tajam.

“Aksi oleh BoE sepenuhnya diantisipasi oleh pasar, dengan suku bunga overnight swaps menunjukkan penurunan lebih dari 30 basis poin,” kata Derek Halpenny, kepala riset pasar global untuk Eropa di Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, naik 0,1 persen, masih di dekat terendah Jumat. Setelah angka PDB AS, peluang kenaikan suku bunga hingga akhir tahun turun menjadi sekitar 33 persen, menurut CME Fedwatch, turun dari sekitar 50 persen pada awal minggu lalu. (ant)