BPJS Kesehatan Gapai Pendapatan Rp74,25 Triliun

IVOOX.id, Jakarta – BPJS Kesehatan mencatatkan jumlah pendapatan iuran JKN-KIS yang dikelola BPJS Kesehatan hingga akhir tahun 2017 mencapai Rp74,25 triliun.

Angka itu didorong oleh angka kepesertaan BPJS Kesehatan yang terus meningkat diangka 197,4 juta jiwa hingga Mei 2018.

“Pendapatan iuran JKN-KIS yang dikelola BPJS Kesehatan hingga tahun 2017 mencapai Rp74,25 triliun. Dan jika diakumulasikan sepanjang 4 tahun. maka total iuran JKN-KIS mencapai 235,06 triliun rupiah,” ucap Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Dia menjelaskan, hingga saat ini tercatat BPJS Kesehatan memfasilitasi pesertanya dengan 12.606 kantor cabang dan 59.937 unit ATM bank mitra BPJS Kesehatan (Mandiri, BRl, BNI, dan BTN) yang siap melayani pembayaran iuran peserta JKN-KIS.

Tak hanya itu, dia mengaku, peserta JKN-KIS juga bisa membayar iurannya melalui internet banking, sms banking, mesin EDC, autodebet, mobile banking, jaringan minimarket, Kader JKN. Kantor Pos, Pegadaian, aplikasi Go-Jek, Pay Tren, dan sebagainya.

Dia pun mengakui, hingga akhir tahun 2017 indeks kepuasan fasilitas kesehatan yang melayani pasien JKN-KIS secara total mencapai 75,7 persen. Sedangkan khusus di tingkat FKTP, indeks kepuasan mencapai 75,9 persen, sementara di tingkat FKRTL adalah sebesar 75,2 persen.

Angka-angka tersebut termasuk dalam kategori tinggi dan sesuai angka yang ditetapkan pemerintah. “Untuk tingkat kepuasan peserta JKN-KIS tahun 2017 juga masuk dalam kategori tinggi yakni sebesar 79,5%,” ujar dia.

Selain itu, JKN-KIS juga dinilai mampu menghindarkan masyarakat dari risiko jatuh miskin akibat membayar biaya pelayanan kesehatan penyakit katastropik yang notabene berbudget tinggi.

Lanjut Fachmi, pengeluaran masyarakat untuk iuran JKN-KIS dapat dianggap sebagai investasi karena Program JKN-KIS terbukti mampu melindungi keluarga dari kemiskinan akibat penyakit berbiaya mahal.

“Kalau dihitung-hitung, operasi jantung bisa habis ratusan juta rupiah. Biaya cuci darah sebulan bisa menghabiskan belasan juta. Biaya pengobatan penyandang thalassemia dan hemofilia bisa mencapai jutaan rupiah,” tegas Fachmi. (ava)