Apakah China Akan Mengalami Krisis Perbankan?

IVOOX.id, Jakarta – China merupakan salah satu raksasa ekonomi yang paling berisiko terkena krisis perbankan, hal tersebut diutarakan Bank of International Settlements, yang menerbitkan laporan kuartalannya pada hari Minggu (11/3).

Dilansir CNBC, laporan tersbut yang mencakup sebuah studi tentang tanda-tanda awal krisis perbankan, menemukan bahwa utang China telah diukur dengan selisih kredit terhadap PDB mereka, dan melebihi jumlah yang dapat menyebabkan dampak buruk bagi sistem mereka. Negara ini juga memiliki tingkat rasio pembayaran hutang yang tinggi, yang membuat sistem perbankannya lebih menjadi rentan.

Kesenjangan kredit terhadap PDB mengukur perbedaan antara persentase hutang dalam ekonomi dan tren jangka panjangnya. Angka yang lebih besar menunjukkan bahwa utang tumbuh dengan kecepatan yang mungkin tidak sehat bagi perekonomian.

Rasio pembayaran hutang, sementara itu, mengacu pada jumlah uang sebagai proporsi pendapatan yang digunakan untuk melunasi pinjaman. Rasio yang lebih tinggi berarti peminjam mungkin telah mengambil terlalu banyak hutang daripada yang dapat didukung oleh pendapatan mereka.

Selain China, laporan BIS juga menemukan Kanada dan Hong Kong berisiko mengalami krisis perbankan. Kerentanan kedua ekonomi tersebut sebagian disebabkan oleh kenaikan harga properti.

Bank Rakyat China dan Bank of Canada tidak segera menanggapi permintaan CNBC untuk memberikan komentar. Seorang juru bicara Otoritas Moneter Hong Kong mengatakan bahwa sejumlah tindakan kehati-hatian makro telah dilakukan untuk memperkuat ketahanan sistem perbankan. Ini mencantumkan buffer modal baru dan tes stres baru untuk pelamar hipotek, diantara tindakan lainnya.

“Sektor perbankan Hong Kong tetap sehat dan memiliki kapitalisasi yang baik, dan memiliki kemampuan untuk mengatasi tekanan,” kata juru bicara tersebut dalam sebuah pernyataan pada surat elektroniknya.

Meskipun ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa sistem perbankan di tiga ekonomi tersebut tertekan, BIS mengatakan bahwa tidak berarti China, Kanada dan Hong Kong pasti sedang mengalami krisis.

“Indikatornya telah dikalibrasi berdasarkan pengalaman masa lalu, dan tidak dapat memperhitungkan perubahan kelembagaan dan ekonomi yang lebih luas yang terjadi sejak krisis sebelumnya,” kata BIS, badan payung bank sentral di seluruh dunia.

“Misalnya, penggunaan langkah-langkah makroprudensial yang jauh lebih aktif seharusnya memperkuat ketahanan sistem keuangan ke payudara finansial, bahkan jika hal itu mungkin tidak mencegah penumpukan tanda-tanda kerentanan biasa,” dalam sebuah keterangan salah satu organisasi di Swiss.[dra]