Alunan Musik Khas Gamelan Menggema dalam Acara Friday Tonic di Inggris

IVOOX.id, London – Ada pemandangan yang tidak biasa saat masyarakat datang ke ruang terbuka di Queen Elizabeth Hall, Southbank Centre, London. Mereka terlihat sangat senang dan menikmati alunan khas gamelan dari beberapa orang berseragam batik khas Solo, Indonesia.

Semakin sore, ruang terbuka tersebut semakin didatangi para pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukan gamelan tersebut bahkan beberapa rela berdesakan dengan penonton lainnya.

Alunan musik gamelan yang ditampilkan seakan-akan menghipnotis para penonton yang berada di tempat tersebut, tepuk tangan yang meriah pun selalu terdengar setiap usai sebuah karya dipentaskan.

Para pemusik gamelan tersebut tergabung dalam Southbank Gamelan Players(SBGP), pertunjukan tersebut digelar sebagai bagian dari seri Friday Tonic dan Concrete Dreams Weekend, Jumat (27/4/2018).

Friday Tonic adalah seri pementasan musik yang dilakukan Jumat sore. Tujuannya adalah agar bisa dinikmati oleh para commuters di saat mereka akan pulang kerja dan mampir ke Southbank Centre untuk sekedar minum kopi atau ngobrol-ngobrol kecil.

Sementara itu, Concrete Dreams Weekend yang berlangsung dari 27-29 April ini dilaksanakan untuk merayakan sejarah pendirian gedung Queen Elizabeth Hall pada tahun 1960-an.

 

Gamelan sendiri memiliki sejarah tersendiri bagi warga Inggris khususnya, pada 30 tahun yang lalu Pemerintah Indonesia membrikan seperangkat gamelan kepada Inggris sebagai tanda persahabatan kedua negara.

Perangkat gamelan tersebut ditempatkan di Southbank Centre sampai sekarang. Pertunjukan tanggal 27 April ini dilakukan dalam rangka memperingati 30 tahun sejak gamelan ini ditempatkan di Southbank Centre.

Pertunjukan yang digelar mulai pukul 17.30 hingga 19.00 itu menampilkan gamelan Jawa oleh kelompok Southbank Gamelan Players, yang memang sudah biasa berlatih di Southbank Centre.

Selain itu juga ada tari-tarian yang melengkapi pertunjukan tersebut yang dibawakan oleh kelompok tari Lila Bhawa Indonesian Dance UK.

Sophie Ransby yang menjabat sebagai Direktur Gamelan di Southbank Centre mengungkapkan rasa terima kasih untuk perjalinan persahabatan antara kedua negara yaitu Indonesia dan Inggris.

“Keberadaan gamelan yang menjadi salah satu jenis musik yang digandrungi masyarakat Inggris menjadi pengokoh ikatan persabatan itu, khususnya dalam diplomasi people-to-people.” ujar Sophie.

Berbagai lagu pun dimainkan dalam pertunjukan tersebut, seperti Diradameta, Gangsaran-Roning Tawang, Full Fathom Five(diciptakan oleh musisi gameran Alec Roth), Gendhing Talu, Ice Cream Van From Mars, Pig in the Kraton(diciptakan oleh Andy Channing).

Selain itu juga ada pentas tari topeng tradisi desa Klaten, yaitu Tari Klana, yang ditarikan oleh Sujarwo Joko Prehatin, seorang dalang asal Tengah Jawa yang sudah menetap di Inggris.

Para penonton juga disajikan penampilan gending tradisional Gambyong Pareanom, kemudian tarian klasik Solo yang dipentaskan oleh dua penari dari Lila Bhawa Indonesian Dance UK.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonedia (KBRI) London, E. Aminudin Aziz, hadir bersama istri mewakili KBRI.

Dalam kesempatan tersebut, Aminudin menyampaikan terima kasih kepada para pegiat seni gamelan ini, yang telah secara terus menerus merawat budaya Indonesia di tanah Inggris.

Aminudin mencatat bahwa beberapa pemain yang aktif dalam kelompok gamelan ini merupakan alumni penerima beasiswa Darmasiswa RI puluhan tahun lalu.

“Keberhasilan mereka merawat seni gamelan di Inggris ini merupakan salah satu wujud keberhasilan program beasiswa Darmasiswa RI itu,” ujar Aminudin.