MNC Sekuritas

Akhir Pekan, Harga SUN Masih Berpeluang Menguat

IVOOX.id, Jakarta – MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpeluang mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (11/1), di tengah optimisme pelaku pasar terhadap isu perang dagang AS-China.

“Di tengah potensi kenaikan harga, kami menyarankan pelaku pasar untuk melakukan strategi trading jangka pendek memanfaatkan momentum kenaikan harga di pasar sekunder,” papar Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra dalam riset harian, Jumat (11/1).

Dia mengatakan beberapa seri yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini adalah FR0073, FR0067, FR0068, FR0075, dan FR0072.

Pada perdagangan Kamis (10/1), penguatan nilai tukar rupiah dan indikasi The Fed akan menghentikan siklus pengetatan moneter menjadi katalis positif bagi harga SUN.

Imbal hasil tercatat naik 2 basis poin (bps), didorong oleh turunnya harga SUN hingga 16 bps.

Imbal hasil SUN tenor pendek mengalami perubahan sebesar 4 bps, di tengah perubahan harga yang mencapai 12 bps. Untuk tenor menengah, imbal hasilnya terkoreksi 2 bps setelah adanya kenaikan harga hingga 8 bps.

Adapun yield SUN tenor panjang cenderung terkoreksi hingga 3 bps, didorong oleh kenaikan harga yang mencapai 17 bps.

Untuk SUN seri acuan, perubahan imbal hasilnya cukup bervariasi pada keseluruhan seri. Seri acuan dengan tenor 5 tahun dan 10 tahun mengalami penurunan yield hingga mendekati 2 bps, masing-masing ke level 7,812% dan 7,896%.

Sementara itu, untuk tenor 15 tahun dan 20 tahun terjadi kenaikan imbal hasil yang terbatas yaitu di bawah 1 bps, masing-masing berada di level 8,270% dan 8,322%.

Seiring dengan pergerakan imbal hasil US Treasury yang menguat pada perdagangan kemarin, imbal hasil SUN berdenominasi dolar AS menunjukkan perubahan yang bervariasi pada hampir keseluruhan seri.

Imbal hasil dari INDO24 mengalami pelemahan sebesar 63 bps ke level 4,104%, didorong oleh adanya kenaikan harga hingga 3 bps. Adapun imbal hasil dari INDO29 dan INDO44 ditutup menguat, masing-masing sebesar 3 bps ke level 4,391% dan 2 bps ke level 5,101%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan volume perdagangan sebelumnya, yaitu senilai Rp17,26 triliun dari 44 seri. Adapun total volume perdagangan seri acuan sebesar Rp4,11 triliun.

Obligasi Negara seri FR0070 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp3,968 triliun dari 51 transaksi. Diikuti Obligasi Negara seri FR0071 dengan nilai Rp2,55 triliun dari 23 kali transaksi.

Adapun Project Based Sukuk Negara Ritel seri PBS019 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp332 miliar dari 10 kali transaksi. Diikuti Project Based Sukuk seri PBS016 dengan nilai Rp300 miliar dari 8 kali transaksi.

Adapun volume perdagangan surat utang korporasi yang dilaporkan senilai Rp422 miliar dari 39 seri yang diperdagangkan.

Sukuk Mudharabah Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry I Tahun 2018 Seri A (SMLPPI01A) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp500 miliar dari 2 kali transaksi. Diikuti Sukuk Mudharabah Berkelanjutan Indonesia Eximbank I Tahap II Tahun 2018 Seri B (SMBEXI01BCN2) dengan nilai Rp100 miliar dari 2 kali transaksi.

Adapun Obligasi Berkelanjutan II Bank BRI Tahap IV Tahun 2018 Seri A (BBRI02ACN4) menjadi obligasi korporasi dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp60 miliar dari 6 kali transaksi. Diikuti Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap II Tahun 2017 Seri B (ISAT02BCN2) dengan nilai Rp60 miliar dari 2 kali transaksi.

Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat sebesar 73,00 pts (0,51%) ke level Rp14.053 per dolar AS. Nilai tukar rupiah bergerak menguat dari awal perdagangan hingga berakhirnya sesi perdagangan dan ditutup menguat di kisaran Rp14.027-Rp14.100 per dolar AS.

Rupiah memimpin penguatan mata uang regional sebesar 0,51% diikuti oleh yen China (CNY) dan ringgit Malaysia (MYR), masing-masing sebesar 0,42% dan 0,37%. Adapun rupee India (INR) memimpin pelemahan mata uang regional setelah melemah 0,1%, diikuti oleh dollar Hongkong (HKD) sebesar 0,02%.

Adapun yield US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup di level 2,746%, menguat 65 bps. Indeks saham utamanya mengalami kenaikan hingga 42 bps pada level 6986,07 (NASDAQ) dan indeks saham DJIA menguat sebesar 51 bps pada level 24001,92.

Sementara itu, imbal hasil obligasi Inggris dan Jerman juga mengalami penguatan, masing-masing ke level 1,28% dan 0,199%. Namun, yield surat utang Jepang menunjukkan penurunan ke level 0,017%, didorong oleh koreksi yang terjadi di pasar sahamnya.